Gizi.net - NEW YORK--MI: Salah satu kunci untuk mencapai tujuan pembangunan global (Millennium Development Goals/MDGs) adalah suksesnya program keluarga berencana (KB). Sebab, KB memberi kontribusi terhadap delapan MDGs yang telah ditetapkan.
Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief seperti dilaporkan wartawan Mediaindonesia.com, Patna Budi Utami, dari New York, Senin (30/3).
Sugiri hadir di New York juga sebagai ketua delegasi Indonesia menjelang sidang ke 42 Commission on Population and Development yang akan dimulai Senin (30/3) hingga Jumat (3/4) di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, AS.
MDGs yang ditetapkan pada 2000 menyepakati sejumlah target, yaitu mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan pendidikan dasar, meningkatkan kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, meningkatkan kesehatan ibu, mengurangi kematian anak, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, menjamin kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kemitraan internasional.
Untuk memerangi kemiskinan dengan mulai mengurangi jumlahnya sebesar 50% pada 2015, katanya, jika tidak ditunjang dengan program KB akan sulit dicapai. Angka kemiskinan akan tetap tumbuh, karena tanpa program KB orang miskin akan terus bermunculan.
"Bila keluarga miskin memiliki banyak anak, nanti akan muncul keluarga-keluarga miskin baru," katanya.
Sebaliknya, jika sebuah keluarga miskin hanya memiliki satu atau dua anak, dan mampu mengentaskan mereka, generasi miskin berikutnya akan berkurang. Oleh karena itu, ujar Sugiri, jika ingin mengurangi kemiskinan harus terlebih dahulu diciptakan keluarga kecil sehingga kemiskinan tidak bertambah.
Selanjutnya, setelah jumlahnya tidak bertambah lagi, mereka bisa diberi program pemberdayaan dan seluruh keluarga miskin pada akhirnya bisa dientaskan. "Mengentaskan kemiskinan pada angka yang sudah stabil akan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan yang jumlahnya terus bertambah," kata Kepala BKKBN.
Selain memberikan kontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan, program KB juga berperan besar untuk mencapai pengurangan angka kematian ibu. Sebab, ketika angka kelahiran turun, risiko kematian ibu saat melahirkan juga berkurang.
Menurutnya, data pada 2007 memperlihatkan angka kematian ibu tercatat 262 per 100 ribu kelahiran. Angka itu jauh berkurang jika dibandingkan dengan 2002 yang masih berjumlah 306 kematian per 100 ribu kelahiran.
Namun demikian, ujar Sugiri, kondisi itu tetap masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Ia berharap melalui program KB angka risiko kematian ibu pada 2015 bisa menyamai Singapura yang saat ini angkanya sekitar 20 per 100 ribu kelahiran.
Ia juga menyatakan, program KB sangat besar pengaruhnya pada upaya pengurangan kematian anak. Sebab, seorang ibu yang memiliki sedikit anak akan memiliki perhatian lebih tinggi terhadap buah hati mereka bila dibandingkan dengan ibu yang memiliki banyak anak. "Jumlah anak yang sedikit secara psikologis akan membantu mempercepat action ibu saat anaknya sakit," ucapnya.
Saat ini, angka kematian anak sampai usia balita di Indonesia masih berada pada posisi 36 per 1.000. (OL-02)
Sumber : Media Indonesia Online - Senin, 30 Maret 2009 19:26 WIB Reporter : Patna Budi Utami
Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief seperti dilaporkan wartawan Mediaindonesia.com, Patna Budi Utami, dari New York, Senin (30/3).
Sugiri hadir di New York juga sebagai ketua delegasi Indonesia menjelang sidang ke 42 Commission on Population and Development yang akan dimulai Senin (30/3) hingga Jumat (3/4) di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, AS.
MDGs yang ditetapkan pada 2000 menyepakati sejumlah target, yaitu mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan pendidikan dasar, meningkatkan kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, meningkatkan kesehatan ibu, mengurangi kematian anak, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, menjamin kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kemitraan internasional.
Untuk memerangi kemiskinan dengan mulai mengurangi jumlahnya sebesar 50% pada 2015, katanya, jika tidak ditunjang dengan program KB akan sulit dicapai. Angka kemiskinan akan tetap tumbuh, karena tanpa program KB orang miskin akan terus bermunculan.
"Bila keluarga miskin memiliki banyak anak, nanti akan muncul keluarga-keluarga miskin baru," katanya.
Sebaliknya, jika sebuah keluarga miskin hanya memiliki satu atau dua anak, dan mampu mengentaskan mereka, generasi miskin berikutnya akan berkurang. Oleh karena itu, ujar Sugiri, jika ingin mengurangi kemiskinan harus terlebih dahulu diciptakan keluarga kecil sehingga kemiskinan tidak bertambah.
Selanjutnya, setelah jumlahnya tidak bertambah lagi, mereka bisa diberi program pemberdayaan dan seluruh keluarga miskin pada akhirnya bisa dientaskan. "Mengentaskan kemiskinan pada angka yang sudah stabil akan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan yang jumlahnya terus bertambah," kata Kepala BKKBN.
Selain memberikan kontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan, program KB juga berperan besar untuk mencapai pengurangan angka kematian ibu. Sebab, ketika angka kelahiran turun, risiko kematian ibu saat melahirkan juga berkurang.
Menurutnya, data pada 2007 memperlihatkan angka kematian ibu tercatat 262 per 100 ribu kelahiran. Angka itu jauh berkurang jika dibandingkan dengan 2002 yang masih berjumlah 306 kematian per 100 ribu kelahiran.
Namun demikian, ujar Sugiri, kondisi itu tetap masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Ia berharap melalui program KB angka risiko kematian ibu pada 2015 bisa menyamai Singapura yang saat ini angkanya sekitar 20 per 100 ribu kelahiran.
Ia juga menyatakan, program KB sangat besar pengaruhnya pada upaya pengurangan kematian anak. Sebab, seorang ibu yang memiliki sedikit anak akan memiliki perhatian lebih tinggi terhadap buah hati mereka bila dibandingkan dengan ibu yang memiliki banyak anak. "Jumlah anak yang sedikit secara psikologis akan membantu mempercepat action ibu saat anaknya sakit," ucapnya.
Saat ini, angka kematian anak sampai usia balita di Indonesia masih berada pada posisi 36 per 1.000. (OL-02)
Sumber : Media Indonesia Online - Senin, 30 Maret 2009 19:26 WIB Reporter : Patna Budi Utami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar